Care – OneShoot

care

Flowssi storyline

starring Yoona and Luhan

Romance-fluff-funny

PG13+

WARNING: PERHATIKAN WAKTU YANG TERTULIS DI SITU.

HAPPY READING ALL

-Yoona POV-

Monday, 12 March 2014

 “YOONA!”

Oh tuhan, jangan katakan hari ini masuk sekolah! Bukan kah hari ini hari minggu? bukan hari senin kan! Ayolah putarlah hari!

“Yoona, kau mau masuk sekolah tidak hah?!” Suara cempreng khas milik kakak-ku, terdengar nyaring di gendang telingaku. Sontak, aku langsung menutupi kepalaku menggunakan bantal.

“Im Yoona! Wake Up! Look At A Clock now!” Aku hanya mendengus kesal, lalu aku terbangun untuk melihat jam weker yang berada di meja-tepat disebelah kasur ku.

“Shit! kenapa kau tidak membangunkan ku dari tadi?!” Teriak ku sambil menunjuk Tiffany yang sedang bersungut dihadapan ku, Oh-bisa bisa aku dihukum pancung karena telat untuk kesekian kalinya.

“Then? kau hanya berdiam diri menatap ku dan tidak bersiap-siap untuk kesekolah?” Aku langsung menepuk dahi ku, kemudian kuambil langkah seribu menuju kamar mandi yang berada tepat disebelah kamar ku.

“Tiff, bisakah kau lebih cepat?” Sahut ku sambil menatap tajam tiffany yang tampak santai sambil menyetir mobil. Tiffany lalu menatap ku kemudian dia mengangkat bahunya.

“Entahlah, aku sedang malas untuk mengemudi dengan kecepatan diatas rata-rata.” Ujar nya santai. Lalu ia menyanyikan sebuah nada lagu yang menurutku mengangguk pikiran ku.

Gila saja! ini sudah jam 6.45 dan 15 menit pasti bel sudah berbunyi, dan sekolah ku masih berjarak 2 km lagi dari sini, oh tuhan! bagaimana jika aku telat lagi?

“Tiffany, Hurry Up!” ucap ku sambil menyenggol pelan bahu tiffany, aku tidak ingin menyenggol nya dengan keras takut dia menjadi ceroboh pada saat situasi menyetir.

“Hahaha, lol, poor you. Oke Yoong.” Aku hanya mendengus kesal saat ia menertawakan ku, Kemudian, kurasakan dia menambah kecepatan mobil yang aku-dan-dia naiki.

Tak terasa, 5 menit sudah sampai. Wow, sepertinya, Tiffany memang benar-benar niat menambah kecepatan mobilnya. Aku turun dari mobil dan melambaikan tangan ke arahnya.

Aku kemudian berlari ke arah kelas ku, aku tak ingin berlama-lama berjalan menuju kelas karena pelajaran pertama akan dimulai oleh Mr.Ben, yeah, guru yang paling killer dan paling menakutkan yang pernah aku temui.

Saat aku sampai di ambang pintu, kulihat ketiga teman ku sudah tersenyum kepadaku. Aku kemudian mendekati mereka dan duduk disebelah salah satu dari mereka-Excel

Hey yoong, guten morgen!” aku tertawa sebentar mendengar sapaan dari Jennie, Aku hanya tersenyum singkat lalu mendekati mereka.

“Apakah aku ketinggalan beberapa gosip?” Sindir ku kepada mereka, ya mereka  sahabat ku yang sangat senang bergosip, termasuk aku juga sih. Ketiga sahabat ku itu adalah, Excel, Jennie, dan Jessie. 

“Yoong, bagaimana hubungan mu dengan lelaki dingin itu?” Aku langsung teringat kepada Luhan-si lelaki dingin yang membuat ku jatuh cinta padanya setahun yang lalu, ya dan dia pun sekarang telah menjadi pacarku.

“Yah, kalian taulah, sifat dingin nya tak bisa ia hilangkan, bahkan terkadang dia jarang mengangkat telefon ku atau membalas sms ku.” Tutur ku sambil menunduk dan memanyunkan bibirku.

“Kau sih, sudah kubilang tak usah berpacaran dengan lelaki itu! siapa namanya? ah i really forget, lelaki itu sudah menggantung kan mu Yoong, kenapa kau tak memutuskan nya saja?” Ujar Jessie ceplas-ceplos yang mau tak mau membuat ku tersenyum dengan kebiasaan nya.

I Can’t, he’s make me falling in love, right.” Ucap ku yang membuat ketiga sahabat ku menatap malas, mereka sudah menduga perkataan ku yang sudah ku-ulang ulang beberapa kali.

Yoona you really stupid, yeah! Luhan dekat dengan banyak yeoja, apa kau tidak cemburu dengan nya? jika aku menjadimu, Luhan sudah ku ajak putus.” Ucap Jennie yang diikuti anggukan oleh Jessie dan Excel.

Oh mean, mereka membuat ku pusing.

“Oh, ayolah aku berbeda dengan kalian.” Ucap ku sambil tertawa garing yang dibalas dengan dengusan teman-teman ku.

Mereka memang menggemaskan!

….

Stephanie-teman Ekskul-ku-bercerita atau lebih tepatnya mungkin membuat lelucon yang membuat siapa saja bisa tertawa.

“Its Truth yoong! my sister is really idiot lol!” ucap stephanie kemudian ikut tertawa bersama ku. Aku memegang perut ku yang terasa geli saat aku tertawa, dan aku pun tak bisa menghentikan tawa ku.

Namun, seorang lelaki dan perempuan lewat di depan ku dan Stepanie, awal nya aku hanya cuek saja, tetapi saat melihat siapa lelaki yang dirangkul oleh perempuan itu, tawa ku berhenti.

 Aku hanya terdiam sebentar, jujur aku ingin menyingkirkan tangan perempuan itu dari lelaki-yang notebene nya adalah milik-ku! siapa lagi kalau bukan Luhan? Percuma saja jika aku melabrak mereka, karena kejadian itu sudah sering dan berakhir dengan aku yang ditinggal oleh Luhan.

Sebenarnya dia mencintaiku tidak sih?

Tuesday, 13 March 2014

“Yoona!”

Aku kaget saat namaku dipanggil oleh Mrs.Xane – guru sejarah. Oh, sejarah memanglah bukan style ku, dan pasti bisa ditebak aku dibentak karena aku tidak memperhatikan Mrs.Xane.

Come On, siapa yang benar-benar menyukai sejarah? Pelajaran yang mengungkit masa lalu dan lalu kemudian lalu lagi dan seterus nya. Apakah pelajaran itu tidak bisa disingkirkan?

“Ya?”

Get out now! useless if I explain, you’re not paying attention! You can only enter the class after the break.”

“O-oke mrs. Iam sorry for my mistake.” Ucap ku kemudian keluar dari kelas secepatnya, aku tidak ingin disemproti oleh hujanan omelan yang membuat telingaku hancur seketika.

Sebelum aku keluar dari kelas, kulihat Excel, Jennie dan Jessie terkekeh pelan. Yayaya, itulah kebiasaaan mereka jika melihat ku dihukum seperti ini.

Menurutku tidak lah buruk jika dalam pelajaran sejarah aku disuruh keluar seperti ini. Mana mungkin aku menyesal jika disuruh keluar dari pelajaran yang membosankan. Lebih baik aku pergi berjalan-jalan di koridor.

Sudah 15 menit berlalu dan aku mendengar suara nyaring yang membuat semua orang bernapas lega, apa lagi kalau bukan bel istirahat?

“Hei, Wassup Yoong! You want go to canteen with us?” Tanya seorang lelaki yang menurutku tampan, yah dulu aku pernah suka pada lelaki itu. Namanya Richard Bons, Lelaki yang asli Belanda dan mungkin berhijrah ke Inggris.

“Oke, its not bad.” Ucap ku lalu kurasakan bahuku sudah dirangkul oleh teman rhicard-William. Oh, sepertinya aku merasa seperti seorang tuan putri yang diantar oleh lima pangeran tampan. Pangeran tampan? tentu! mereka adalah Richard, William, Alex, Robbert, Daniel.

Oh My God!

Aku melupakan Jessie, Jennie, dan Excel. Saat memasuki kantin, kulihat mereka sedang duduk di meja-paling pojok-sambil menatap ku tajam. Aku hanya tersenyum polos lalu mengedipkan sebelah mataku.

Hei, Want to join with Excel, Jennie and Jessie?” Tanya ku kepada mereka berlima. Mereka saling menatap lalu mengangguk. Akupun membawa mereka ke meja ketiga sahabat ku.

Mereka saling bersapa dan berbicara ringan-yang membuat posisi ku sekarang  -seolah tak ada, Oh aku benci ini.

“Yoona, mereka melihatmu.” Bisik Jennie sambil menyenggol bahuku. Memang siapa yang melihatku? kenapa disaat Jennie membisikan ku, dia membawa aura mengerikan? Oh lupakan, aku terlalu dramatis.

“Who’s?” Tanya ku. Jennie merapatkan bibirnya lalu mengarahkan matanya ke meja yang berada di tengah-tengah kantin. Meja yang menjadi banyak pusat perhatian. Oh, meja Luhan.

Dan, seperti yang berada di drama-drama-menurutku, dia tidak hanya duduk sendiri, namun bersama teman-teman yang sama seperti dia. Selalu dingin bersama orang lain dan berbanding jauh jika di dekat bersama orang yang dekat.

 “Then?” Tanya ku santai. Jennie mendengus geli lalu menatap ku dengan tapapan menggoda. “Jadi, kau sudah tak peduli dengan nya?”

Aku hanya mengangkat bahu ku sambil merapatkan bibirku. Namun, kurasakan suatu tangan merangkul ku. Aku melihat ke-sebelah kanan ku, Oh-ternyata Alex, dia hanya tersenyum simpul lalu mendekatkan wajah nya ke telingaku, bermaksud membisikan ku.

“Look your boy yoong, maybe he’s jealous.” Aku tertawa mendengar bisikan Alex, sepertinya alex ingin membuat ‘dia’ cemburu. Tapi aku terdiam, bagaimana mungkin Luhan cemburu? memang luhan bisa cemburu?

Aku pernah memanas-manasinya bahkan lebih dari lima puluh kali lebih, tapi apa yang aku dapat? tatapan datar nya dan suara dingin nya. Dia menyayangiku tidak sih?

Aku merenggangkan tangan ku saat bel pulang sekolah berbunyi. Semua orang bernapas lega-termasuk aku. Siapa juga yang ingin berlama-lama mencuci otak mereka dengan rumus rumus yang sangat rumit itu?

Aku langsung mengambil tas ku dan menyusul ketiga temanku yang sudah pergi terlebih dahulu, tetapi, sampai di ambang pintu, aku dicegat oleh seorang lelaki yang sangat familiar, terlalu familiar malah.

“What?” Tanya ku saat mendapatkan tatapan datar darinya. Tubuh yang disenderkan ke tembok, seragam yang sudah berantakan, juga tangan nya yang dimasukan ke saku celana. Benar-benar lelaki yang cool.

“Follow me.” Ucap Luhan dingin lalu menarik tangan ku, aku sontak kaget karena dia menggenggam tangan ku begitu erat, dia juga berjalan cepat, membuatku menjadi tertabrak siswa yang berlalu lalang melewati ‘kita’.

Sampai ditempat yang sepi-halaman belakang sekolah, Luhan langsung melepaskan genggaman tangan ku. Oh lihat! tangan ku memerah, betapa kejam nya dia padaku.

“Berhentilah dekat-dekat dengan mereka!” serunya yang membuat ku kaget, oke ini sebenarnya sudah biasa dia marah marah tak jelas seperti ini. Apakah aku tidak boleh dekat dengan Excel,Jennie dan Jessie? Kenapa?!

“Who’s?” Tanyaku terlebih dahulu agar benar-benar tak salah paham. Masa iya setiap kita berbicara berdua tidak ada kata rayuan atau kata manis yang terlontar dari mulutnya, malahan seruan yang akan membuat adu mulut.

“Axel and the gang.” Aku hanya menyertikan mataku heran. Memang kenapa jika aku dekat dengan kelompok Axel? apakah dia cemburu? Ah tapi tidak mungkin. Seperti mengerti atas kebingungan ku, diapun angkat bicara.

“Pokok nya jangan!” Ucapnya berlalu pergi begitu saja meninggalkan aku sendiri disini. Oh, aku seperti cinderella yang selalu dibully oleh kedua kakak tiri mereka dan ibu tiri mereka, tetapi sayang nya Luhan adalah pacarku, bukan kakak tiri maupun ibu tiriku.

…..

Wednesday, 14 March 2014

Aku melihat loker ku yang sepertinya terdapat sebuah surat undangan. Ku ambil undangan itu. Oh-ternyata undangan prom night yang diadakan setiap dua bulan sekali. Oh harus pakai baju yang mana ini?

Prom night diadakan pada hari sabtu, omg! harus bersama pasangan. Bagaimana jika Luhan tak ingin berpasangan bersamaku? berarti aku harus menguruskan badan agar tubuh ku bisa dipakai di baju yang kecil sekalipun.

Semangat Yoong!

Kurasakan bel istirahat berbunyi, Jennie mengampiriku lalu mengajak ku untuk makan dikantin. Aku hanya terdiam sambil menatap nya. “Aku sedang diet, kau makan saja bersama yang lain.”

Jennie hanya mengangguk lalu pergi bersama yang lain. Mungkin mereka pikir, tidak biasanya aku begini, aku pasti yang paling semangat diantara mereka jika sudah menyangkut tentang makanan.

Aku sudah merasa badan ku gemuk, dan aku tau pasti di prom night nanti pakaian mereka terbuka, karena ini adalah prom night ketiga terakhir, sebentar lagi kami akan melakukan ujian untuk pendidikan yang lebih tinggi lagi, dan aku tak ingin aku menjadi yang paling gemuk disitu, aku harus diet agar tak membuat Luhan malu.

“…. Attention, please! untuk kelas XII-3 dan XII-4 harap ke lapangan karena akan diadakan pelatihan olahraga, jangan lupa ganti baju olahraga yang kemarin sudah diumukan, Thanks.”

Aku mendengar dari speaker bahwa ada pelatilah olahraga. Oh bagaimana ini? aku saja tidak makan, lalu bagaimana jika nanti aku pingsan? siapa yang menggendong ku? apakah Tuhan mengkaruniaku seorang pangeran yang jauh lebih tampan dan membawaku pergi dari jeratan Luhan?

Sialnya, seberapa jauh pangeran itu membawaku, hatiku akan selalu tetap terjerat pada Luhan.

Aku langsung berlari ke arah ruang ganti dan mengganti seragam ku menggunakan pakaian olahraga.

….

“…..Yoona kau dibasket, Excel ke di Basket juga, Jennie kau di Voly dan Jessie kau di softball, ada yang ingin ditanyakan lagi?” Semua murid menggeleng dan Mr.Richard tersenyum puas lalu meniupkan peluit-yang artinya kita disuruh bergabung oleh kelompok masing-masing.

Aku dan Excel berjalan ke arah kelompok basket, Ku lihat ada luhan juga disana. Berarti dia sekelompok denganku? pasti pelatihan nya akan menyenangkan.

Namun, tak kuduga, sebelum bermain, kita disuruh memutar lapangan seluas ini, dan lebih parah nya itu 5 putaran, oh ayolah, bahkan sekarang aku berputar dalam 2 putaran dan aku sudah sesak napas seperti ini, pandangan ku mengabur saat aku melihat Excel yang sudah jauh di depan ku.

Dan untuk terkahir, aku hanya melihat posisiku yang berada di paling belakang diantara semua yang  berada di kelompok basket.

Aku terbangun dan memegang kepalaku yang tampak pening. Sakit sekali. Bahkan pandangan ku sempat kabur untuk beberapa menit. Aku melihat di pojok terdapat Luhan yang sedang mendengarkan musik.

Untuk apa dia disini? kenapa dia tidak latihan basket? lalu pandangan nya sedari tadi menghadap jendela yang mengekspos lapangan luas, sekarang berlaih ke seorang perempuan terbaring lemah karena diet.

“Sudah sadar?” tanya nya mendekatiku, dari tatapan nya sepertinya dia mengkhawatirkan ku, dan tak bisa kupungkiri bahwa lengkungan ini terus terbentuk.

“Sudah, siapa yang membawa ku kesini?” Tanyaku sambil mengalihkan pandangan ku ke arah jendela, dan kulihat semuanya sedang pada sibuk latihan.

“Aku.” Satu kata namun sangat banyak makna yang berada dalam kata itu. Kurasakan wajah ku sangat merah sekarang. omg! berarti tadi dia menggendongku?

Seharunya tadi aku pura-pura pingsan saja agar aku bisa merasakan bagaimana digendong olehnya. “Kata Excel kau diet, makanya kau pingsan, benar?”

Lamunan ku dibuyar oleh perkataan dirinya. TUMBEN SEKALI dia berkata itu padaku, sepertinya Tuhan mendatangkan seseorang yang jauh lebih kucintai daripada pangeran.

“Memang nya kenapa?” tanyaku polos, setelah kurasa aku pulih, aku mendudukan tubuh ku lalu menatap tatapan nya datar namu penuh arti itu.

“Bodoh, untuk apa kau diet?” Tanya nya sambi memasukan kedua tangan nya di saku celananya, Benar-benar lebih sempurna daripada pangeran yang aku impikan tadi, dan fyi, ini adalah percakapan terpanjang kedua setelah ia menembak-ku.

“A-ak-aku…” Sepertinya Luhan menungguku untuk berbicara karena dia tak menghiraukan kegugupan ku, akupun menghela napas panjang.

“S-sabtu ada prom night ka-kan? k-karena ku-kurasa badan ku sudah lumayan gemuk, aku jadi ingin diet dan mengecilkan badan ku, disaat prom night harus bersama pasangan dan….” Luhan menatap ku dengan mata menyipit. Membuat ku semakin gugup.

“Aku tak ingin membuatmu malu.” Ucap ku sambil menunduk, dia hanya menghelang napas kasar lalu menatapku dengan tatapan tajam.

“Gak usah sok diet! ayo makan siang sama aku!” Ujar nya lalu menarik ku menuju kantin, dan… kurasakan kupu-kupu telah berterbangan tinggi diperut ku.

Thursday, 15 March 2014

Hari ini tanggal merah, dan aku bingung melakukan apa dirumah. Dirumah ku ini begitu sepi, hanya ada kakak ku-Calista Im. Bosan sekali rasanya jika Mama dan Papa berada di luar negri dengan alasan yang selalu sama ‘proyek yang kita kerjakan belom selesai sayang.’

Ah, aku belum punya baju untuk prom night yang cocok untuk ku. Ah, aku ingin mengajak Excel, Jennie dan Jessie. Mereka pasti juga ingin jika diajak shopping seperti ini.

“Sorry Yoong, but i am busy.”

“Yoong, i have a date with my boyfriend.”

“Sorry honey, but must stay in home.”

Lagi, lagi dan lagi, mereka tak bisa semua, lalu aku bersama siapa? Ah bagaimana jika aku bersama Alex? tapi kemarin Luhan menyuruh ku untuk jangan mendekati Alex, lupakan lah, aku tak peduli.

Aku menekan kontak alex lalu menelfon nya. Tak sampai 1 menit, Alex sudah mengangkatnya.

“Yoong!’

“Alex, maukah kau menemaniku untuk berjalan-jalan mencari baju untuk prom night besok?’

“Apakah ini dating?”

“Hei! iam seriously!”

“Hahaha, just kidding yoong, sebenarnya itu sedikit membosankan, tapi jika aku diam dirumah lebih membosankan, baiklah aku akan meemanimu, 1 jam lagi aku akan kerumah mu.”

PIP.

Aku hanya tertawa mengingat ucapan Alex yang terakhir. Alex itu lelaki yang ceplas ceplos namun baik dan setia kawan, dia juga anak yang asyik. Tak akan menyesal jika bersahabat dengan nya.

“Axel, yang ini atau yang ini?” Tanyaku sambil menampilkan dua pasang short dress kepadanya. Dia pun tampak menimang-nimang lalu memilih baju yang kupegang di sebelah kanan, aku lalu mengangguk dan membeli baju itu. menurutku memang dress yang kanan itu memang keren.

“Bagaimana dengan ice cream? akan kutraktir deh karena kau mau menemaniku.” Tawar ku sambil melihat wajah nya yang berseri-seri, lalu dia segera merangkul ku dan membawa ku ke stand ice cream.

Namun, saat aku hendak memesan ice cream, aku rasa tangan ku ditarik dengan sangat kencang, dan tebakan ku pun tak meleset. Luhan sedang menarik ku dan meninggalkan Alex sendiri. Namun bagaimana bisa Luhan berada disini?

“Kau kenapa bisa disini? dan kenapa menarik ku seperti itu? sakit tau!” seru ku sambil mengelus tangan ku yang terlihat lebih merah dari kemarin-kemarin. Oh, mungkin sekarang aku menjadi cinderella yang dibully lagi.

“Kenapa kau bisa berada disini bersama Alex? kemarin aku sudah bilang untuk menjauhinya!” ucapnya dengan helaan nafas kasar, oh Tuhan bisakah kau kirimkan ibu peri untuk menolong ku?

“Memang nya kenapa sih? aku akan berhak bersama siapa saja! dia juga sahabatku!” ucapku tak kalah keras dengan suaranya tadi, dan kulihat dia menatap ku tajam lalu menghela napas kasar-lagi.

“Pokok nya, jika kau pergi bersama siapa, aku harus tau!” ucap nya dengan wajah yang memerah. Dia.Keterlaluan.

“Aku tau kau memang pacarku, tapi, kau juga tidak berhak seperti itu!” seru ku sambil mengepalkan tangan ku, sudah kurasa nafas ku terengah-engah. Kukira, dia akan berbaik hati seperti kemarin, namun sepertinya sama saja sifatnya, menyebalkan.

“Terserah kau lah!” Ucapnya mengacak rambutnya sedikit-kurasa dia sedikit frustasi menghadapiku, belum sampai 1 menit, dia langsung pergi meninggalkan ku.

Oh Tuhan, bahkan aku melupakan Alex yang mungkin masih di stand ice cream. Aku langsung berlari menuju stand ice cream yang tadi kudatangi bersama Alex.

Namun sepertinya, Dewi Fortuna tidak berpihak kepadaku. Jalan untuk ke stand ice cream sepertinya terlihat sangat jauh. Detik detiik yang berjalan, semakin banyak orang yang berlalu-lalang di mall ini.

Akhirnya, 7 menit aku sampai di stand ice cream. Ku lihat Alex sedang duduk di pojokan dan menatap ponselnya-sepertinya dia sedang mengirim pesan kepada seseorang. Dan, di meja itu terdapat 2 ice cream yang seperti nya akan meleleh sebentar lagi.

“Alex!” Seruku sambil duduk di hadapan nya. Dia kemudian mendongak-kan kepalanya lalu tersenyum padaku. Oh aku benar-benar merasa bersalah padanya karena telah membuatnya menunggu!

“Ada masalah lagi?” Tanya nya-sepertinya dia memang selalu benar jika menebak perasaanku. Dan aku hanya bisa mengangguk pasrah.

“Iam tired. He’s make me tired.” Ucapku lalu menyenderkan punggung ku di kursi yang berwarna pink itu. Kulihat Alex menatapku iba sambil menggeleng-geleng kan kepalanya.

“You must strong! fighting!” Ucapnya sambil mengepalkan tangan nya di dekat wajah nya. Dia memberikan senyuman manis nya dan itu membuat lengkungan ku terbentuk lagi.

“Thanks, Come on go to home.” Ucapku kemudian berdiri. Dia pun mengangguk lalu menggandeng tangan ku.

…..

Saturday 17 march, 2014

Aku mengoleskan eyeshadow berwarna soft pink ke bawah alisku. Aku tak ingin berpenampilan terlalu ribet, lagipula ini juga prom night. Biasa nya di prom night hanya akan diperlihatkan lekukan badannya, dan pakaianya.

Dress selutut berwarna gradasi antara putih dan hitam tampak lucu menurutku. Tak lupa, aku menjepitkan rambutku ke bagian belakang, rambut yang tersisa ku biarkan tergerai begitu saja. Aku juga memakai High Heels berwarna putih tulang yang membuat aku menjadi-tinggi?

Katanya, Luhan akan menjemputku, dia tadi mengirimkan pesan kepadaku, dan yah…pesan yang sangat singkat, namun penuh makna itu. Baru pertama kali dalam seumur hidup Luhan mau satu mobil bersamaku.

Suara ketukan pintu terdengar di telingaku, aku menyisir rambutku lalu berjalan ke arah pintu. Saat aku membuka pintu, kulihat Calista sudah membulatkan matanya. Mungkin dia takjub dengan adiknya yang tampak sangat cantik malam ini.

“Whoa Yoong, you look so glamour!” Ucapnya sambil memegang bahuku. Kemudian dia sedikit menata rambutku yang mungkin menurut dia kurang bagus untuk dilihat.

“Oke, Luhan in there.” Calista menunjuk kursi tamu yang diduduki Luhan. Aku tidak bisa melihat Luhan dengan jelas karena dia membelakangiku. Oh, mengapa aku menjadi gugup seperti ini?

Aku tetap berjalan mendekatinya, Kulihat dia sepertinya mendengar suara high heelsku lalu berdiri dan menatapku.

Waw!

Damn! he’s really really really cool!

Aku kemudian tersenyum kaku saat Luhan menatapku lama. Dan sepertinya dia tidak takjub dengan ku karena tatapan nya seperti biasa. Datar.

Dia kemudian menggandeng ku ke arah mobil nya yang sudah terparkir rapi di depan gerbang rumahku. Dan, sepertinya ini akan menjadi hari terbaik bagiku karena Luuhan membukakan pintu untukku.

Aku berusaha menyembunyikan wajah ku yang memerah saat Luhan menutup pintuku. Dia kemudian langsung berjalan ke arah tempat duduk pengemudi. Suasana di dalam mobil sangatlah canggung, hanya ada suara radio saja yang memenuhi ruangan mobil yang panjang ini.

……This is romance day! prom night everywhere wow! i jeoalous i can’t join. Oh, maybe its fun!” seru sang pembawa radio yang terdengar di mobil Luhan. Kemudian lagu ‘Just The Way You Are’ milik Bruno Mars terdengar.

Untung, sebelum lagu itu mencapai reff nya, kita sudah sampai di tempat prom night diadakan. Saat Luhan berhasil memarkir mobil ini dengan rapi, dia langsung membukakan pintu untuk ku dan menggandeng tangan ku.

Jantungku berdegup amat kencang karena ulahnya, dan ya.. kurasa wajahku juga sangat merah kali ini, Kemudian aku melihat Excel, Jennie dan Jessie yang sedang bercanda tawa di dekat soft drink.

“Aku akan ketempat teman ku sebentar.” Ucapku lalu melepas pegangan dari Luhan. Aku menghampiri mereka yang mungkin sedang bergosip ria. Mereka kemudian kaget atas kedatangan ku.

“Yoong! you’re beautiful!” seru Excel sambil menepuk pundak ku. Aku hanya tersenyum simpul lalu berbicara ringan dengan mereka bertiga, namun tak sampai lima menit aku Jennie menyenggol bahu ku dan menyuruh ku menghadap belakang.

Dan,dibelakang ku terdapat Luhan yang sedikit memaksakan senyum, mungkin dia begitu karena ada teman-teman ku. Tapi aku bersumpah, di saat dia tersenyum seperti itu, wajah nya 3 kali lebih tampan.

“Ikut aku.” Ucapnya langsung menarik ku, dan kali ini juga berbeda. Dia tidak menarik ku sampai tangan ku memerah. Namun, dia menarik ku dengan perlahan dan jalan nya pun tidak terlalu cepat.

Dia membawaku ketempat yang sepi dan tiba-tiba dia berdiri di sebuah kursi yang menurutku sudah dihias oleh nya sendiri-mungkin?

Dia kemudian menjunjung beberapa kertas dan terdapat lampu yang menyinari kertas itu. Mataku menyipit untuk membaca kertas itu.

“Hai sweetheart.” Aku sedikit terbelakak melihat tulisan itu, lalu Luhan langsung membalikan kertas itu dan menunjukan kertas yang lain.

“Aku mempunyai banyak kesalahan dan kecerobohan ku dalam berhubungan dengan mu dan itu membuatku menyesal.” Aku masih belum mengerti apa yang dia maksud, kemudian dia membalikan kertas lagi.

“Aku benar-benar gengsi dan tak mau menunjukan image ku yang sebenarnya karena aku tak ingin dipermalukan olehmu.” Sungguh aku tak mengerti hal ini.

Luhan pun melakukan hal yang sama seperti tadi, namun sepertinya kertas ini panjang sekali, dan kertas itu bahkan mengenai rumput hijau yang sedang kupijaki ini.

“Pada saat hari senin dimana aku berangkulan dengan seorang gadis, aku hanya ingin memanas-manasimu karena aku ingin tau seberapa kau cinta padaku.”

“Dan pada hari selasa aku menyuruh mu untuk tidak mendekati Axel dan teman-teman nya karena aku cemburu waktu itu, aku tak ingin hatimu berpaling dariku.”

“Dan pada saat hari rabu aku sangat khawatir padamu yang jatuh pingsan, aku tak tau bagaimana cara nya untuk mengajak mu makan pada saat itu, jujur aku tak peduli jika kau akan gemuk, yang penting kau bisa terus bersama ku dan tertawa bersamaku.”

“Untuk hari kamis, aku membentak mu dan aku tau pasti kau sudah menganggapku keterlaluan tapi, aku ingin menjagamu karena itu tugasku makanya aku harus selalu tau kau pergi bersama siapa, tapi jujur aku menyesal.”

Aku tercengang sat membaca kalimat yang terakhir. Luhan pun langsung membuang kertas itu sembarang, kemudian dia Menunjukan dua kertas yang berbentuk hati dan turun dari kursi tinggi itu.

“Yoona, sorry for about my mistake.”

“Iam promise, i will love you untill we die.”

Aku terdiam membaca dua kertas berbentuk hati itu. Demi apapun, pandangan ku mengabur dan kurasakan cairan liquid bening jatuh dari pelupuk mataku. Tuhan, katakan lah padaku bahwa ini kenyataan yang sangat aku nantikan sepanjang hidupku.

Kurasakan sekali lagi, tangan milik Luhan menghapus air mataku yang terus berjatuhan. Dia kemudian menarik ku kedalam pelukan nya dan itu membuatku menangis dengan keras.

“Sorry, for about my mistake Yoong.” Ucapnya lembut sambil mengelus puncak kepalaku. Oh tuhan aku bahkan tersenyum saat menangis seperti ini. Aku kemudian membalas pelukan nya dengan erat.

“I love you.”

“I love you too sweetheart.”

.

.

.

.

.

FIN

A/N: Haiii, aku dateng bawa ff yang baru lagi nih😀 Maaf kalo misalnya alur cerita gak sesuai dengan perkiraan para readers (?) ini juga aku ngasal bahkan sempet keubah-ubah sampe 5 kali lebih. Dan karena jadwal aku yang udah sibuk jadi cuma bisa buat sependek ini.

Terkadang aku juga baru bisa lanjut nulis kalo malem-malem, ini aja di post pas tengah malem😀 Maaf bagi yang udah nunggu ff yang lain karena gak aku post sampe sekarang. Aku bener-bener minta maaf. So, enjoy dulu aja sama ff yang aku buat.

Sorry for a typo and about a write, thanks for reading ^^ 

Flowssi.